Jumat, 15 September 2017

TEORI KOGNITIF PADA PEMBELAJARAN MULTIMEDIA


Multimedia Learning (pembelajaran multimedia) adalah teori pembelajaran yang dipopulerkan oleh Richard R. Mayer yang digunakan sebagai representasi mental dari gambar dan kata-kata yang kemudian dikenal sebagai Cognitive Theory of Multimedia Learning (CTML).

1. Menurut cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran  Matematika?

        JAWAB :

        Menurut Meyer (2003) CTML memiliki tiga asumsi dasar. Asumsi yang pertama adalah Dual Chanel, manusia memiliki dua cara dalam memproses informasi apa saja yang mereka dapat melalui dua jalur, visual (penglihatan) dan audio (pendengaran). Contohnya yaitu komputer desain program micrososft powerpoint dan radio. Asumsi yang kedua adalah Limited Capacity, manusia memiliki daya tampung yang terbatas terhadap informasi yang masuk pada setiap jalur yang diterima pada waktu yang sama, asumsi ini diadopsi dari Cognitive Load Theory. Contohnya yaitu kemampuan mengingat atau memahami / otak serta on-screen text. Asumsi yang ketiga adalah Active Processing, manusia menggabungkan berbagai macam informasi yang mereka terima baik secara visual maupun audio yang kemudia digabungkan menjadi satu kesatuan yang koheren dan mengintregasikannya dengan pengetahuan yang lain. Contohnya yaitu suara, gambar, dan kata-kata.

   
  2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran Matematika?

     
        JAWAB :

        Model Dual-Coding adalah: model pembelajaran yang dikembangkanberdasarkan prinsip-prinsip  Dual-Coding Theory atau Teori Pengkodean Ganda. Teori pengkodean ganda adalah teori yang berasumsi bahwa manusia memiliki dua sistem pengolahan informasi yang berlainan: satu mewakili informasi verbal dan yang lain mewakili informasi visual Solso, 1998). Lebih lanjut, Paivio (1991, dalam Solso, 1998) menguraikan tentang separated dual-code dan integrated dual-code. Separated dual-code menunjukkan perbedaan yang jelas pada model penerimaan atau penyimpanan informasi dalam memori berdasarkan informasi yang diberikan, dalam hal ini informasi visual dan informasi verbal. Informasi yang diberikan dalam bentuk kata-kata akan diterima dalam bentuk verbal, sedangkan informasi yang diterima dalam bentuk gambar akan diterima atau disimpan dalam bentuk visual. Ada 3 proses yang berlangsung saat seseorang menerima 2 bentuk informasi (verbal dan visual), dalam waktu yang sama, yaitu: 1) membuat gambaran verbal serta kesesuaian dengan informasi verbal yang diterima; 2) membuat gambaran visual serta kesesuaian dengan informasi visual yang diterima; dan 3) membuat kesesuaian hubungan antara gambaran visual dengan gambaran verbal yang sudah diterima.
                   
                               
      DAFTAR PUSTAKA
  
     repository.upi.edu/11784/4/T_IPS_1204758_Chapter1.pdf
    repository.uksw.edu/bitstream/123456789/6029/2/T2_942012061_BAB%20II.pdf
 https://faisalfatih.wordpress.com/2014/12/14/teori-kognitif-pembelajaran-multimedia-cognitive-theory-of-multimedia-learning/

21 komentar:

  1. Menurut geminia apakah akan maksimal hasilnya jika seorang guru yang gaya belajarnya visual tapi harus mengajarkan ke siswanya dengan gaya auditori dan kinestetik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ikut menanggapi ya kak<
      menurut saya<
      seorang guru harus lebih kreatif lagi untuk menghadapi peserta didik yang beragam gaya belajarnya,
      jadi tidak terfokuskan dengan gaya belajar yang dia miliki sendiri. terima kasih

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya akan maksimal kak, karena jika seorang guru gaya belajarnya visual, dy akan membuat media pembelajaran untuk siswa auditori dan kinestetik dengan sungguh2 karena media itu juga akan memaksimalkan tipe gaya auditori dan kinestetik guru tersebut.

      Hapus
  3. Sya setuju dgn pndpat geminia. Jd pmblajaran itu tdk hnya bermanfaat bagi murid tp jg bagi guru. Bgi murid, dpt membrikan kmudahan dlm menerima materi. Bagi guru dpt mengmbangkan kterampilan guru dlm mmbuat multimedia yg baik😊😊

    BalasHapus
  4. Teori pengembangan media berbasis ICT sepertinya hanya untuk memaksimalkan memampuan kognitif saja? bagaimana dengan afektif dan psikomotornya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurt saya sebagai guru, kita harus mendesai sebuah media yang tidak hanya berisi rumus2, atau simulasi menurunkan rumus,tetapi kita jiga harus memperhatikan segi afektif dan psikomotorik, dengan misalnya di media tersebut dibuatkan sebuah kerangka kerja dmna siswa langsung mngerjakan didalamnya sesuai aturan, tentu itu menumbuhkan afektif disiplin dan psikomotorik, terima kasih, semoga membntu

      Hapus
  5. saya ingin bertanya? ap kiat2 bagi kita sebagai generasi muda yang nantinya akan menjadi guru, jika disekolah itu terdapat guru tertentu yang gaptek terhadap teknologi? bagaimana cara kita mengenalkan dan menjelaskan teori kognitif tsb?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita sebagai generasi muda secara perlahan memberitahukan atau mengajarkan teknologi tersebut kepada guru itu,sebenarnya guru itu ingin belajar tetapi mungkin terlalu malu untuk bertanya kepada yang lebih mengerti

      Hapus
    2. untuk cara kita mengenalkan dan menjelaskan teori kognitif ini, bisa kita langsung lihatkan contoh dan media pembelajarannya sehingga dengan itu kita dapat dengan mudah menjelaskan teori kognitif

      Hapus
  6. Silahkan mampir di blog saya
    www.fauzikhoirulmahfi.blogspot.com

    BalasHapus
  7. Saya ingin bertanya. Bgaimana kaitan teori dual channel ini dgn gaya bljar siswa. Misalny siswa dgn gaya belajar auditori. Apakah siswa trsebut hny menggunakan channel pndengarannya saja? Atau bagaimana?

    BalasHapus
  8. Geminia,
    Dalam pembelajaran matematika, seperti apa ya contoh dari dual-coding tersebut? Mohon penjelasannya.
    Trimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teori dual coding yaitu informasi yang diterima seseorang diproses melalui dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi.
      jadi contohnya dalam pembelajaran matematika misal dengan media pembelajaran dalam materi statistika dimana medianya bisa dibuat dengan menggunakan dua channel tersebut

      Hapus
  9. Geminia,
    Dalam pembelajaran matematika, seperti apa ya contoh dari dual-coding tersebut? Mohon penjelasannya.
    Trimakasih

    BalasHapus
  10. Geminia, bgaimana dgn siswa kinestetik? Dual coding kan berfokus pada visual dan audio, lalu bgaimana dgn siswa yg kinestetik?

    BalasHapus
  11. Kemudian, sebagai pengajar, usaha apa yg bisa kita lakukan untuk megoptimalkan teori dual coding trsebut pada siswa, sehingga nntinya dalam proses pembelajaran siswa dpat mnyerap dgn baik pelajaran yg kita sampaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usaha yang dapat kita lakukan yaitu dengan membuat media pembelajaran semenarik mungkin dengan menerapkan teori dual coding

      Hapus
  12. kak nia, izin bertanya. Apakah teori dual coding ini lebih menekankan kepada kemampuan penyerapan materi pembelajaran saja atau adakah subtansi lain???

    BalasHapus
  13. menurut mbak gemi.. teori dual coding ini mengoptimalkan aspek verbal dan non verbal. bagaimana kah aspek kinestetiknya? apakah tidak termasuk dalam teori ini? apakah teori ini kurang pas?

    BalasHapus
  14. manurut geminia, bagaimana cara membuat media yang bisa benar2 efektif dan efisien?

    BalasHapus

MEDIA PEMBELAJARAN TRANSLASI

MEDIA PEMBELAJARAN TRANSLASI. CHECK THIS OUT http://www.mediafire.com/file/wj77grf7nee3wlp/TRANSLASI.pptx